Bagikan berita positif untuk kebaikan.
WhatsApp Salin Link
*Manfaat membagikan Artikel
Bagikan berita positif untuk kebaikan
WhatsApp Salin Link
*Manfaat membagikan Artikel
mediapositif.id / Kesehatan / Nutrisi

Apa Itu Pemanis Buatan? Ini 5 Risiko yang Perlu Kamu Tahu

AN
JO
×
AN
AN
Penulis Media Positif
JO
Joanna Foley, RD
Full Credit
AN , Joanna Foley, RD | Diperbarui
Apa Itu Pemanis Buatan? Ini 5 Risiko yang Perlu Kamu Tahu
Pemanis buatan
IklanBuka rekening Krom, dapat bonus hingga Rp150.000

JAKARTA - MEDIAPOSITIF, Kalau kamu sedang berusaha mengurangi asupan gula, mungkin kamu pernah berpikir untuk beralih ke pemanis buatan. Pemanis ini banyak digunakan sebagai pengganti gula dalam makanan dan minuman karena bisa memberikan rasa manis dengan kalori yang lebih sedikit atau bahkan hampir tanpa kalori, tergantung jenisnya.

Namun, penggunaan pemanis buatan juga masih menjadi bahan penelitian. Lantas, apa sebenarnya pemanis buatan dan apakah aman untuk dikonsumsi?

Apa Itu Pemanis Buatan?

Pemanis buatan atau high-intensity sweeteners adalah bahan yang digunakan untuk memberikan rasa manis pada makanan dan minuman. Tingkat kemanisannya jauh lebih tinggi dibandingkan gula pasir, sehingga hanya dibutuhkan dalam jumlah kecil untuk menghasilkan rasa manis yang sama.

Karena digunakan dalam jumlah yang sangat sedikit, beberapa jenis pemanis ini hanya menyumbang sedikit kalori atau hampir tidak memberikan kalori. Sebagian besar juga tidak menyebabkan kenaikan gula darah secara langsung seperti gula biasa.

Pemanis dengan intensitas tinggi juga banyak ditemukan dalam produk yang diberi label sugar-free, diet, atau rendah kalori.

Daftar Pemanis Buatan

Di Amerika Serikat, FDA menyetujui enam pemanis dengan intensitas tinggi sebagai bahan tambahan pangan, yaitu:

  • Sakarin
  • Aspartam
  • Sukralosa
  • Acesulfame potassium (Ace-K)
  • Neotam
  • Advantam

Jenis pemanis yang diizinkan dapat berbeda di setiap negara. Di Indonesia, BPOM juga mengatur penggunaan berbagai pemanis sebagai bahan tambahan pangan, termasuk aspartam, sakarin, siklamat, sukralosa, asesulfam kalium, dan neotam, beserta batas penggunaannya pada produk pangan tertentu.

Pemanis Buatan vs Gula Alkohol dan Pemanis Alami

Pemanis buatan bukan satu-satunya bahan yang digunakan sebagai pengganti gula. Ada beberapa jenis pemanis lain, seperti:

  • Gula alkohol (polyols): Jenis karbohidrat yang digunakan sebagai pemanis, misalnya sorbitol, xylitol, dan eritritol. Meski disebut “alkohol”, gula alkohol tidak sama dengan alkohol yang terdapat dalam minuman beralkohol.
  • Pemanis alami: Berasal dari sumber alami, seperti madu dan stevia. Madu tetap mengandung gula dan kalori, sedangkan stevia termasuk dalam kelompok pemanis non-gula.

Beberapa pemanis non-gula, termasuk stevia dan sebagian gula alkohol, memiliki kalori yang lebih rendah dibandingkan gula. Namun, karakteristik dan efeknya terhadap tubuh tidak selalu sama.

Artikel ini secara khusus membahas pemanis buatan dan apa yang diketahui mengenai keamanannya.

Apakah Pemanis Buatan Berbahaya?

Pemanis buatan yang telah disetujui oleh badan pengawas pangan dinilai aman digunakan dalam batas dan kondisi penggunaan yang telah ditetapkan. FDA, misalnya, menetapkan acceptable daily intake (ADI) untuk masing-masing pemanis berdasarkan evaluasi keamanan yang tersedia.

Meski begitu, keamanan tidak berarti semua pemanis bebas dari perdebatan. Salah satu contohnya adalah aspartam.

Pada 2023, Badan Internasional untuk Riset Kanker (IARC) mengklasifikasikan aspartam sebagai “kemungkinan bersifat karsinogenik bagi manusia” atau Grup 2B berdasarkan bukti yang masih terbatas. Pada saat yang sama, JECFA mempertahankan batas asupan harian yang dapat diterima sebesar 40 mg per kilogram berat badan.

Klasifikasi IARC menunjukkan adanya potensi bahaya yang perlu diteliti lebih lanjut, bukan berarti konsumsi aspartam dalam jumlah yang wajar terbukti menyebabkan kanker. Karena itu, penting membedakan antara adanya potensi bahaya dan risiko pada tingkat konsumsi tertentu.

Apa Saja Efek yang Perlu Diperhatikan?

Selain soal keamanan masing-masing jenis pemanis, para peneliti juga masih mempelajari kemungkinan hubungan antara konsumsi pemanis non-gula dan berbagai aspek kesehatan dalam jangka panjang.

1. Nafsu Makan dan Keinginan Mengonsumsi Makanan Manis

Ada penelitian yang mengamati hubungan antara pemanis non-gula, nafsu makan, dan keinginan mengonsumsi makanan manis. Namun, hasil penelitian masih beragam dan belum menunjukkan bahwa pemanis buatan secara konsisten membuat seseorang makan lebih banyak.

Karena itu, belum tepat jika pemanis buatan dianggap pasti meningkatkan nafsu makan pada setiap orang.

2. Respons Tubuh terhadap Gula Darah

Pemanis non-gula umumnya tidak menyebabkan kenaikan gula darah seperti gula biasa. Namun, penelitian masih terus melihat bagaimana jenis pemanis tertentu dapat memengaruhi respons metabolisme tubuh.

Efeknya juga dapat berbeda tergantung jenis pemanis dan kondisi masing-masing orang. Jadi, tidak semua pemanis dapat dianggap memiliki efek yang sama terhadap gula darah atau insulin.

3. Perubahan pada Mikrobioma Usus

Mikrobioma usus menjadi salah satu bidang yang banyak diteliti dalam kaitannya dengan pemanis non-gula. Sejumlah penelitian menemukan bahwa beberapa jenis pemanis dapat memengaruhi komposisi atau aktivitas mikroorganisme di dalam usus.

Namun, perubahan mikrobioma tidak otomatis berarti menimbulkan penyakit. Bukti mengenai dampak jangka panjangnya pada kesehatan manusia masih terus berkembang.

4. Kaitan dengan Penyakit Jantung dan Stroke

Sejumlah penelitian observasional menemukan adanya hubungan antara konsumsi pemanis non-gula dan risiko penyakit kardiovaskular. Namun, hubungan tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa pemanis menjadi penyebabnya.

WHO juga menekankan bahwa hubungan antara konsumsi pemanis non-gula dan berbagai penyakit kronis dapat dipengaruhi faktor lain yang sudah dimiliki seseorang sejak awal. Karena itu, penelitian lebih lanjut masih diperlukan.

>> Baca juga: 7 Penyebab Kamu Sering Ngidam Makanan Manis dan Cara Mengatasinya

5. Kaitan dengan Sindrom Metabolik

Beberapa penelitian juga menemukan hubungan antara konsumsi pemanis non-gula dan sindrom metabolik. Namun, belum jelas apakah pemanis tersebut secara langsung meningkatkan risikonya atau apakah hubungan tersebut dipengaruhi kondisi kesehatan dan pola makan seseorang.

Sindrom metabolik sendiri merupakan kumpulan beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan stroke. Faktor tersebut meliputi:

  • Lemak berlebih di area perut
  • Kadar trigliserida tinggi
  • Kadar kolesterol HDL yang rendah
  • Tekanan darah tinggi
  • Gula darah tinggi

Pemanis Buatan vs Gula, Mana yang Lebih Baik?

Tidak ada jawaban sederhana untuk menentukan mana yang selalu lebih baik.

Pemanis non-gula dapat membantu mengurangi jumlah gula dan kalori dalam makanan atau minuman tertentu. Namun, WHO tidak merekomendasikan penggunaan pemanis non-gula sebagai strategi utama untuk mengendalikan berat badan atau mencegah penyakit kronis dalam jangka panjang.

Karena itu, mengurangi rasa manis secara keseluruhan dan membiasakan diri memilih makanan serta minuman yang lebih rendah gula tetap menjadi bagian penting dari pola makan sehat.

Siapa yang Perlu Lebih Berhati-hati?

Sebagian orang mungkin perlu memperhatikan jenis pemanis yang dikonsumsi karena kondisi kesehatan tertentu.

Salah satu contohnya adalah orang dengan fenilketonuria (PKU), yaitu kondisi genetik langka yang membuat tubuh tidak dapat memproses fenilalanin dengan baik. Orang dengan PKU perlu menghindari atau membatasi aspartam karena pemanis tersebut mengandung fenilalanin.

Untuk kondisi kesehatan lain, kebutuhan setiap orang dapat berbeda. Jika kamu sedang hamil, memiliki kondisi medis tertentu, atau memiliki kekhawatiran terhadap konsumsi pemanis tertentu, kamu bisa berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi.

Cara Mengurangi Asupan Gula Tambahan

Mengurangi gula tidak selalu berarti harus langsung menggantinya dengan pemanis buatan. Kamu juga bisa mulai dengan mengurangi sumber gula tambahan dalam makanan dan minuman sehari-hari.

Beberapa cara yang bisa dicoba:

  • Kurangi minuman manis dan pilih air putih atau minuman tanpa gula.
  • Baca label nutrisi dan daftar bahan sebelum membeli makanan atau minuman kemasan.
  • Pilih buah utuh sebagai camilan ketika ingin sesuatu yang manis.
  • Kurangi gula secara bertahap agar lidah terbiasa dengan rasa yang tidak terlalu manis.

Pada akhirnya, pemanis buatan tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang sepenuhnya “baik” atau “buruk”. Yang lebih penting adalah memahami jenis pemanis, jumlah yang dikonsumsi, serta keseluruhan pola makan sehari-hari.

What Are Artificial Sweeteners, and Are They Bad for You? 5 Possible Risks to Consider
Dapatkan Buku Digital Pilihan Anda!
di Lynk.id - mediapositif.id
The Power of Your Subconscious Mind
Beli Sekarang
What Color Is Your Parachute?
Beli Sekarang
The Psychology of Money: Ringkasan Praktis
Beli Sekarang
Atomic Habits: Ringkasan Praktis dan Workbook
Beli Sekarang

Komentar

    📢

    Kerja Sama Iklan Segera Hadir!

    Kami sedang menyiapkan halaman khusus untuk Anda yang tertarik beriklan bersama Media Positif. Nantikan kabar baiknya dalam waktu dekat, ya!