Bagikan berita positif untuk kebaikan.
WhatsApp Salin Link
*Manfaat membagikan Artikel
Bagikan berita positif untuk kebaikan
WhatsApp Salin Link
*Manfaat membagikan Artikel
mediapositif.id / Kompetensi / Pengembangan Diri

Mengapa Ketidakpastian dan Konflik Bisa Membentuk Ketahanan Diri

Pelajari bagaimana belajar berdamai dengan ketidakpastian.
Nabila Feb
MA
×
Nabila Feb
Nabila Feb
Penulis Media Positif
MA
marlynn wei
Full Credit
Nabila Feb , marlynn wei |
Mengapa Ketidakpastian dan Konflik Bisa Membentuk Ketahanan Diri
Berhenti memaksakan kontrol dan belajar menerima ketidakpastian. (Sumber: freepik)

JAKARTA - MEDIAPOSITIF, Banyak orang membayangkan kehidupan ideal sebagai kehidupan yang berjalan tenang, teratur, dan minim konflik. Namun, perjalanan hidup tidak selalu seperti itu. Penderitaan, patah hati, dan berbagai ujian justru dapat menjadi pengalaman yang membentuk karakter serta membantu seseorang berkembang.

Penulis mengingat pengalaman ketika pertama kali membaca The Marriage of Heaven and Hell karya William Blake saat kuliah filsafat di Yale. Salah satu gagasan Blake yang membekas adalah bahwa pertentangan merupakan bagian dari proses menuju kemajuan. Daya tarik dan penolakan, akal dan energi, cinta dan kebencian, merupakan dua sisi yang dapat hadir bersamaan dalam kehidupan manusia.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa konflik dan pengalaman sulit tidak selalu harus dilihat sebagai sesuatu yang perlu dihindari. Dalam banyak situasi, pengalaman tersebut justru dapat menjadi bagian dari proses seseorang memahami diri, beradaptasi, dan berkembang.

Ketahanan Diri Tidak Hanya Dibentuk oleh Masa Sulit

Jika melihat kembali perjalanan hidup, pengalaman yang paling membentuk seseorang sering kali bukan hanya momen-momen yang menyenangkan, melainkan situasi sulit yang pernah dihadapi dan dilewati.

Kemampuan untuk bertahan dan kembali menjalani kehidupan setelah menghadapi masa sulit dikenal sebagai resilience atau ketahanan diri. Namun, ketahanan diri tidak selalu berarti berhasil menemukan solusi atas setiap masalah.

Ada pandangan yang menganggap bahwa setiap konflik harus memiliki penyelesaian yang jelas. Masalah muncul, solusi ditemukan, kemudian kehidupan kembali berjalan seperti semula. Pola pikir semacam ini dapat membuat seseorang berharap bahwa pada titik tertentu kehidupannya akan menjadi sepenuhnya tenang dan bebas dari konflik.

Padahal, perubahan dan persoalan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Memasuki usia 30, 40, atau 50 tahun tidak berarti seseorang akan terbebas dari konflik batin, perubahan hubungan, maupun ketidakpastian.

Belajar Menerima bahwa Hidup Tidak Selalu Berjalan Lurus

Sekitar sepuluh tahun kemudian, penulis menemukan perspektif lain melalui filsafat Timur dan ajaran mindfulness. Perspektif ini menekankan bahwa perubahan, ketidakpastian, dan berbagai hal yang tampak bertentangan merupakan bagian dari kehidupan.

Dari sudut pandang tersebut, kehidupan tidak harus selalu bergerak menuju kondisi yang semakin pasti atau sempurna. Dua keadaan yang berlawanan dapat hadir dalam waktu yang sama dan menjadi bagian dari proses perubahan.

Gambaran ini dapat ditemukan dalam simbol Yin dan Yang. Terang dan gelap, keras dan lembut, serta berbagai hal yang berlawanan dipandang sebagai bagian dari keseimbangan yang terus bergerak.

Cara pandang tersebut juga dapat membantu seseorang menghadapi perubahan dalam hubungan dan kehidupan sehari-hari. Hubungan yang sebelumnya dekat dapat berubah, sementara hubungan yang dahulu penuh konflik dapat berkembang menjadi lebih baik seiring waktu.

Sejumlah penelitian mengenai perbedaan budaya juga menunjukkan bahwa cara orang memandang perubahan dan kontradiksi dapat dipengaruhi oleh latar belakang budaya. Dalam beberapa konteks budaya Asia Timur, misalnya, seseorang cenderung lebih terbiasa melihat dua keadaan yang bertentangan sebagai sesuatu yang dapat hadir secara bersamaan, bukan selalu sebagai pilihan yang harus dimenangkan salah satunya.

Ketidakpastian Tidak Selalu Harus Dilawan

Perspektif mengenai penerimaan terhadap ketidakpastian juga dapat ditemukan dalam praktik mindfulness. Alih-alih terus berusaha mendapatkan kepastian atas sesuatu yang memang berada di luar kendali, seseorang belajar memperhatikan apa yang sedang terjadi dan meresponsnya dengan lebih sadar.

Guru Buddhis Pema Chödrön, melalui bukunya Comfortable with Uncertainty, membahas bagaimana ketidakpastian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Tidak ada seseorang yang benar-benar dapat mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan.

Keinginan untuk mengendalikan hal-hal yang berada di luar kendali justru dapat membuat seseorang semakin cemas. Karena itu, menerima ketidakpastian bukan berarti berhenti berusaha atau menyerahkan segala sesuatu pada keadaan. Penerimaan lebih berkaitan dengan kemampuan untuk membedakan antara hal yang dapat dikendalikan dan hal yang memang harus dihadapi sebagaimana adanya.

Menemukan Ketahanan di Tengah Perubahan

Membangun ketahanan diri tidak selalu berarti mencari jawaban atau penyelesaian untuk setiap persoalan. Dalam beberapa situasi, ketahanan justru tumbuh ketika seseorang mampu menerima bahwa tidak semua hal memiliki kepastian atau akhir yang sesuai dengan harapan.

Hal tersebut bukan berarti bersikap pasif terhadap kehidupan. Seseorang tetap dapat mengambil keputusan, mencari bantuan, menetapkan batasan, dan melakukan berbagai hal yang berada dalam kendalinya.

Namun, di saat yang sama, ada bagian kehidupan yang memang tidak dapat diprediksi. Hubungan dapat berubah, rencana dapat bergeser, dan keadaan yang sebelumnya terasa pasti dapat menjadi berbeda.

Belajar menerima kenyataan tersebut dapat membantu seseorang menghadapi perubahan dengan lebih tenang. Ketika tidak lagi menuntut kehidupan untuk selalu berjalan lurus dan sempurna, ruang untuk beradaptasi pun menjadi lebih besar.

Pada akhirnya, ketahanan diri bukan hanya tentang seberapa kuat seseorang menghadapi masalah, tetapi juga tentang kemampuannya untuk tetap hadir dan beradaptasi ketika kehidupan tidak berjalan sesuai rencana. Dari sanalah ketidakpastian tidak selalu harus dilihat sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang dapat dijalani dengan lebih sadar.

psychologytoday.com
Dapatkan Buku Digital Pilihan Anda!
di Lynk.id - mediapositif.id
The Power of Your Subconscious Mind
Beli Sekarang
What Color Is Your Parachute?
Beli Sekarang
The Psychology of Money: Ringkasan Praktis
Beli Sekarang
Atomic Habits: Ringkasan Praktis dan Workbook
Beli Sekarang

Komentar

    📢

    Kerja Sama Iklan Segera Hadir!

    Kami sedang menyiapkan halaman khusus untuk Anda yang tertarik beriklan bersama Media Positif. Nantikan kabar baiknya dalam waktu dekat, ya!