JAKARTA - MEDIAPOSITIF, Media sosial memang punya banyak hal yang menyenangkan. Kita bisa tetap terhubung dengan teman, menemukan informasi baru, mencari inspirasi, sampai mengikuti hal-hal yang memang kita sukai.
Namun, semakin sering digunakan, media sosial juga bisa terasa melelahkan. Berbagai video, iklan, notifikasi, dan rekomendasi yang muncul tanpa henti membuat kita seolah tidak pernah benar-benar selesai menerima informasi.
Dalam artikelnya di Psychology Today, Susanna Newsonen menceritakan pengalamannya kembali menggunakan media sosial setelah tiga bulan berhenti. Ia hanya bertahan sekitar 15 menit di Instagram sebelum merasa ingin keluar lagi.
Bagi Newsonen yang merasa membutuhkan banyak ketenangan, suasana media sosial yang semakin ramai terasa cukup menguras energi. Dari pengalaman tersebut, ia kemudian mencoba menetapkan beberapa batasan agar media sosial tetap bisa digunakan tanpa mengambil terlalu banyak ruang dalam kesehariannya.
Sebagai makhluk sosial, kita tetap membutuhkan interaksi dan hubungan dengan orang lain. Di sisi lain, kita juga membutuhkan waktu tanpa terlalu banyak rangsangan dari luar. Karena itu, menggunakan media sosial dengan lebih sadar bukan berarti harus meninggalkannya sepenuhnya. Ada beberapa batasan sederhana yang bisa dicoba.
1. Bebaskan Kamar Tidur dari Layar Gawai
Kamar tidur sebaiknya menjadi tempat untuk beristirahat, bukan tempat untuk terus menerima informasi baru.
Penggunaan perangkat elektronik menjelang tidur dapat mengganggu waktu dan kualitas tidur, terutama ketika membuat kita tidur lebih larut atau terus terpapar cahaya dari layar.
Karena itu, kamu bisa mencoba menjauhkan ponsel dari tempat tidur atau berhenti membuka media sosial sebelum tidur. Dengan begitu, hal terakhir yang kamu lihat sebelum memejamkan mata tidak selalu berasal dari lini masa.
Kamu bisa menggantinya dengan membaca buku, berbincang dengan pasangan, bermain bersama hewan peliharaan, atau sekadar melihat pemandangan di luar jendela.
2. Lindungi 30 Menit Pertama dan Terakhir dalam Seharimu
Awal dan akhir hari bisa menjadi waktu yang cukup menentukan suasana hati. Jadi, tidak ada salahnya memberi jeda sebelum langsung mengambil ponsel begitu bangun atau sebelum tidur.
Coba gunakan 30 menit pertama dan terakhir untuk melakukan sesuatu yang membuatmu lebih hadir dalam keseharian. Kamu bisa menulis jurnal, melakukan peregangan, membaca, menikmati kopi, atau sekadar duduk tanpa membuka layar.
Bukan berarti media sosial pasti akan merusak harimu. Hanya saja, mungkin ada baiknya kamu memberi kesempatan pada dirimu sendiri untuk menentukan bagaimana ingin memulai dan mengakhiri hari.
3. Hentikan Kebiasaan Scrolling Saat Bosan
Setelah berhenti menggunakan media sosial, Newsonen menyadari bahwa kebiasaan mencari sesuatu untuk di-scroll ternyata tidak langsung hilang.
Ia masih membuka berita, mengecek cuaca, melihat-lihat toko online, atau mencari informasi lain setiap kali merasa bosan.
Padahal, bosan tidak selalu perlu segera dihilangkan.
Sesekali, kamu bisa membiarkan diri tidak melakukan apa-apa. Duduk sambil melamun, membaca majalah, berjalan keluar rumah, atau sekadar menikmati udara sore juga bisa menjadi pilihan.
Memberi jeda dari arus informasi yang terus masuk bisa memberi pikiran ruang untuk beristirahat dan memunculkan ide-ide baru.
4. Atur Konten yang Muncul di Berandamu
Tidak semua akun perlu terus kamu ikuti hanya karena sudah lama berada di daftar following.
Kalau sebuah akun membuatmu mendapatkan informasi baru, merasa terhibur, atau menemukan inspirasi, tidak ada salahnya untuk tetap mengikutinya.
Sebaliknya, kalau kamu terus merasa cemas, membandingkan diri, atau lelah setelah melihat konten tertentu, kamu juga boleh memilih untuk unfollow, mute, atau membatasi interaksi dengan akun tersebut.
Hal yang sama berlaku untuk konten yang berkaitan dengan kesehatan, keuangan, atau topik lain yang membutuhkan informasi akurat. Perhatikan siapa yang membuat konten dan apakah mereka memang memiliki keahlian yang relevan.
Pada akhirnya, beranda media sosialmu juga bisa menjadi ruang yang kamu pilih sendiri. Tidak semua yang muncul di sana harus kamu ikuti.
5. Ingat bahwa Kamu Boleh Beristirahat atau Pergi
Selama bertahun-tahun, Newsonen merasa harus selalu aktif di media sosial karena pekerjaannya sebagai penulis.
Namun, tiga bulan tanpa media sosial memberinya satu pelajaran sederhana: ternyata ia tidak harus selalu ada di sana.
Ia tetap bisa bekerja, berkomunikasi, menikmati waktu bersama orang lain, dan menjalani keseharian tanpa harus terus-menerus muncul di media sosial.
Kamu juga berhak menentukan kapan ingin menggunakannya, kapan ingin mengambil jeda, atau bahkan apakah kamu masih ingin menggunakannya sama sekali.
Setelah menjauh selama beberapa bulan, Newsonen justru semakin menyadari betapa ia menyukai ketenangan. Ia suka melamun, berjalan-jalan tanpa merasa harus mengabadikan semuanya, dan mengobrol langsung dengan orang lain.
Mungkin, sesekali kita memang perlu memberi sedikit jarak dari layar agar punya ruang untuk mendengar kembali apa yang sedang terjadi dalam pikiran sendiri.
psychologytoday.com
Komentar