JAKARTA - MEDIAPOSITIF, Mudah merasa kesal atau marah bisa terjadi pada siapa saja. Saat sedang irritable, kamu mungkin merasa lebih sensitif dan tidak sabaran dari biasanya. Hal kecil yang biasanya tidak mengganggu pun bisa terasa sangat menyebalkan.
Berbagai Penyebab Mudah Marah
Iritabilitas adalah kondisi ketika seseorang merasa lebih mudah terganggu atau tidak toleran terhadap keadaan di sekitarnya. Banyak hal yang bisa memicu kondisi ini, mulai dari stres, kurang tidur, perubahan hormon, hingga masalah kesehatan tertentu.
Selain merasa mudah kesal, iritabilitas terkadang disertai gejala lain, seperti sulit berkonsentrasi, bingung, jantung berdebar, berkeringat berlebihan, atau napas menjadi cepat dan dangkal.
Lalu, apa saja penyebab mudah marah dan tersinggung?
1. Stres
Stres dalam kehidupan sehari-hari bisa membuat kamu lebih mudah marah. Ketika menghadapi masalah di pekerjaan, sekolah, hubungan, kehilangan seseorang, atau pengalaman traumatis, kamu mungkin merasa lebih sulit mengendalikan emosi.
Saat stres berlangsung lama, kamu juga bisa merasa kewalahan dan kelelahan secara emosional. Kondisi ini dapat membuat kamu semakin sensitif terhadap orang atau situasi di sekitar.
Karena itu, mengenali tanda-tanda stres sejak awal dan mencari cara untuk mengelolanya dapat membantu mencegah stres berkepanjangan dan kelelahan emosional.
2. Depresi
Depresi tidak selalu hanya ditandai dengan rasa sedih. Kondisi ini juga dapat menyebabkan kelelahan dan mudah marah.
Pada sebagian orang, meningkatnya iritabilitas bahkan bisa menjadi salah satu tanda awal depresi atau munculnya kembali gejala depresi.
Selain mudah marah, depresi dapat ditandai dengan rasa bersalah, merasa tidak berharga atau putus asa, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, sulit berkonsentrasi, perubahan nafsu makan atau berat badan, sakit kepala, dan masalah pencernaan.
Jika beberapa gejala tersebut berlangsung selama setidaknya dua minggu, sebaiknya kamu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan penilaian yang tepat.
3. Kecemasan
Rasa cemas biasanya muncul ketika menghadapi situasi yang membuat stres, misalnya masalah pekerjaan, ujian penting, atau perubahan besar dalam hidup. Kecemasan seperti ini umumnya akan berkurang setelah situasi tersebut berlalu.
Namun, kecemasan yang terus berlangsung atau semakin berat dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari dan hubungan dengan orang lain.
Kecemasan dapat membuat kamu lebih mudah marah, sulit berkonsentrasi, mengalami ketegangan otot, jantung berdebar, sulit tidur, atau bernapas lebih dangkal.
Pada sebagian orang, kecemasan juga dapat memicu serangan panik. Kekhawatiran mengenai kemungkinan mengalami serangan panik berikutnya dapat membuat seseorang semakin kewalahan dan mudah tersinggung.
4. Fobia
Fobia adalah rasa takut atau keengganan yang sangat kuat terhadap objek, orang, atau situasi tertentu.
Ketika memikirkan atau berhadapan dengan sesuatu yang menjadi sumber fobia, seseorang bisa merasa sangat takut, panik, kewalahan, dan lebih mudah marah.
Fobia dapat berkaitan dengan berbagai hal, seperti ketinggian, terbang, jarum suntik, darah, situasi sosial, berada di luar rumah, atau hewan tertentu.
5. Kurang Tidur
Kurang tidur dapat membuat kamu lebih mudah marah pada hari berikutnya. Anak-anak bahkan bisa menjadi lebih rewel atau emosional ketika tidak mendapatkan tidur yang cukup dan berkualitas.
Orang dewasa umumnya membutuhkan sekitar 7–8 jam tidur setiap malam. Jika kamu sering merasa lelah meskipun sudah tidur atau tidurmu sering terganggu, kondisi seperti insomnia atau sleep apnea mungkin menjadi penyebabnya.
6. Gula Darah Rendah
Gula darah yang terlalu rendah atau hipoglikemia juga dapat menyebabkan perubahan pada kondisi fisik dan emosi.
Selain mudah marah, hipoglikemia dapat menyebabkan rasa gugup, sulit berkonsentrasi, jantung berdebar, gemetar, sakit kepala, mengantuk, serta pusing atau merasa seperti akan pingsan.
Kondisi ini sering dialami oleh orang dengan diabetes akibat penggunaan insulin atau obat diabetes tertentu. Namun, orang yang tidak memiliki diabetes juga dapat mengalami gula darah rendah sementara, terutama ketika belum makan selama beberapa jam.
7. Perubahan Hormon
Perubahan atau ketidakseimbangan hormon dapat memengaruhi kondisi fisik dan emosional, termasuk membuat seseorang lebih mudah marah.
Stres, pola makan yang kurang baik, dan kurang tidur dapat memengaruhi hormon. Kondisi lain seperti diabetes, hipertiroidisme, menopause, serta PCOS juga dapat berkaitan dengan ketidakseimbangan hormon.
Pada orang dengan penis, kadar testosteron yang rendah atau estrogen yang tinggi juga dapat menyebabkan iritabilitas.
8. Sindrom Pramenstruasi
Sindrom pramenstruasi atau PMS merupakan salah satu penyebab perubahan suasana hati dan mudah marah yang berkaitan dengan perubahan hormon.
Selain mudah tersinggung, PMS dapat menyebabkan sakit kepala, kelelahan, suasana hati yang buruk, kecemasan, lebih mudah menangis, keinginan makan tertentu, perut kembung, payudara terasa nyeri atau membengkak, serta sembelit atau diare.
>> Baca juga: Jangan Ditahan, Ini 6 Cara Memproses Kemarahan dengan Cara yang Sehat
Cara Mengatasi Mudah Marah
Cara mengatasi iritabilitas bergantung pada penyebabnya. Jika dipicu oleh kondisi tertentu, menangani penyebab tersebut dapat membantu mengurangi rasa mudah marah.
Selain itu, kamu bisa mencoba beberapa kebiasaan berikut:
-
Rutin berolahraga untuk membantu menjaga kondisi tubuh dan suasana hati.
-
Mengonsumsi makanan bergizi dengan lebih banyak makanan utuh seperti buah dan sayuran serta membatasi makanan olahan.
-
Menjaga jadwal tidur agar tubuh mendapatkan waktu istirahat yang cukup dan teratur.
-
Melatih pernapasan perlahan ketika mulai merasa tegang atau mudah tersulut.
-
Mencoba meditasi untuk membantu mengelola emosi.
-
Berbicara dengan orang terpercaya ketika kamu merasa kewalahan.
-
Mencatat perubahan suasana hati melalui jurnal untuk mengetahui situasi yang sering menjadi pemicu.
- Berkonsultasi dengan profesional jika rasa mudah marah sulit dikendalikan atau terus berlangsung.
Mudah marah sesekali merupakan hal yang wajar, terutama ketika kamu sedang menghadapi stres atau kurang tidur.
Namun, jika iritabilitas berlangsung lama, semakin berat, atau muncul bersama gejala lain, kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan fisik maupun mental. Dalam situasi seperti ini, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan mental.
What causes irritability?
Komentar