JAKARTA - MEDIAPOSITIF, Pernah merasa hari-harimu berjalan begitu saja? Kamu bangun, menyelesaikan pekerjaan, mengurus kebutuhan sehari-hari, lalu beristirahat sebelum mengulang rutinitas yang sama keesokan harinya.
Semua tanggung jawab memang terselesaikan, tetapi kamu justru merasa hampa, bosan, atau seperti tidak benar-benar menikmati hidup. Kondisi ini terkadang disebut hidup dalam mode autopilot. Kamu tetap menjalani aktivitas seperti biasa, tetapi kurang menyadari perasaan, kebutuhan, dan hal-hal yang sebenarnya bermakna bagi dirimu.
Menurut psikolog Jonice Webb, kebiasaan ini dapat berkaitan dengan kesulitan mengenali dan menerima emosi. Kabar baiknya, kemampuan untuk memahami perasaan bisa dilatih kembali. Dengan langkah sederhana, kamu dapat mulai menjalani hidup dengan lebih sadar dan merasakan kembali makna dalam keseharian.
Apa Artinya Menjalani Hidup dalam Mode Autopilot?
Hidup dalam mode autopilot bukan sekadar melakukan rutinitas tanpa banyak berpikir. Kondisi ini juga dapat menggambarkan keadaan ketika kamu kurang terhubung dengan emosi sendiri.
Kamu mungkin tetap produktif, mampu menyelesaikan pekerjaan, dan terlihat baik-baik saja di mata orang lain. Namun, kamu sulit merasakan kegembiraan saat mengalami hal menyenangkan, tidak mudah mengungkapkan kesedihan, atau merasa kesepian meskipun dikelilingi orang-orang terdekat.
Kamu juga mungkin terbiasa mendahulukan kebutuhan orang lain sampai lupa memperhatikan apa yang kamu butuhkan.
Menurut Webb, salah satu faktor yang dapat berperan adalah pengabaian emosional pada masa kanak-kanak (childhood emotional neglect). Hal ini dapat terjadi ketika perasaan anak jarang diperhatikan, diterima, atau ditanggapi dengan baik oleh orang-orang yang merawatnya.
Akibatnya, anak bisa belajar bahwa perasaannya tidak penting atau sebaiknya disimpan sendiri agar tidak merepotkan orang lain. Kebiasaan menekan emosi tersebut dapat terbawa hingga dewasa.
Meski demikian, merasa bosan atau hampa tidak otomatis berarti kamu mengalami pengabaian emosional pada masa kecil. Ada berbagai faktor lain yang dapat memengaruhi keadaan emosional seseorang.
Mengapa Penting untuk Mengenali Emosi Sendiri?
Emosi bukan hanya sesuatu yang perlu dikendalikan atau dihindari. Perasaan juga membantu kamu memahami kebutuhan diri dan merespons situasi dengan tepat.
Misalnya, rasa marah dapat menjadi tanda bahwa ada batas pribadi yang perlu kamu jaga. Kesedihan bisa menunjukkan bahwa kamu membutuhkan waktu untuk memulihkan diri, sedangkan rasa senang dapat membantu kamu mengenali aktivitas yang bermakna.
Ketika terbiasa mengabaikan emosi, kamu mungkin kesulitan mengetahui kapan harus beristirahat, meminta bantuan, atau mengatakan tidak. Kamu pun bisa terus memenuhi harapan orang lain tanpa menyadari bahwa dirimu sendiri sedang kelelahan.
Mengenali emosi bukan berarti kamu harus selalu mengikuti setiap perasaan yang muncul. Tujuannya adalah memahami apa yang sedang kamu alami agar dapat mengambil keputusan dengan lebih sadar.
3 Cara Keluar dari Mode Autopilot dan Menikmati Hidup Kembali
Kembali terhubung dengan diri sendiri tidak harus dimulai dengan perubahan besar. Kamu bisa memulainya melalui tiga langkah berikut.
1. Akui dan Terima Apa yang Kamu Rasakan
Langkah pertama adalah menyadari bahwa kamu mungkin selama ini kurang memperhatikan perasaan sendiri. Jika hidup terasa monoton atau kamu kesulitan menikmati hal-hal yang biasanya menyenangkan, cobalah memberi ruang untuk memahami keadaan tersebut.
Kamu tidak perlu menyalahkan diri sendiri karena merasa hampa atau menganggap dirimu kurang bersyukur. Perasaan tersebut layak diperhatikan, bukan langsung dihakimi.
Mulailah dengan mengakui apa yang sedang terjadi. Kamu bisa berkata kepada diri sendiri, "Akhir-akhir ini aku merasa lelah dan kurang menikmati aktivitas sehari-hari."
Penerimaan ini bukan berarti kamu harus pasrah terhadap keadaan. Sebaliknya, mengakui masalah dapat menjadi awal untuk memahami kebutuhan diri dan mencari perubahan yang diperlukan.
2. Latih Kemampuan Mengenali Emosi
Jika kamu terbiasa mengabaikan perasaan, mengenali emosi mungkin tidak selalu mudah. Kamu bisa merasa tidak nyaman tanpa mengetahui penyebabnya atau hanya mampu mengatakan bahwa kamu sedang baik-baik saja.
Untuk melatihnya, luangkan beberapa menit setiap hari untuk memeriksa keadaan diri. Tanyakan tiga hal sederhana: apa yang sedang aku rasakan, apa yang mungkin memicunya, dan apa yang aku butuhkan saat ini?
Misalnya, setelah menyelesaikan pekerjaan, kamu menyadari bahwa kamu merasa kesal. Setelah memikirkannya, kamu menemukan bahwa penyebabnya bukan pekerjaan itu sendiri, melainkan karena kamu belum memiliki waktu untuk beristirahat.
Kamu juga bisa menuliskan perasaan dalam jurnal singkat. Tidak perlu menggunakan kalimat panjang. Cukup catat kejadian yang dialami, emosi yang muncul, dan hal yang mungkin kamu butuhkan.
Semakin sering berlatih, kamu dapat menjadi lebih peka terhadap sinyal dari diri sendiri dan lebih memahami alasan di balik respons emosionalmu.
3. Beri Ruang untuk Memenuhi Kebutuhan Diri
Memperhatikan kebutuhan sendiri bukan berarti kamu egois atau tidak peduli terhadap orang lain. Justru, kamu perlu mengenali batas kemampuan agar dapat menjalankan tanggung jawab tanpa terus-menerus mengabaikan diri.
Jika kamu selalu mengatakan iya ketika dimintai bantuan, misalnya, cobalah mempertimbangkan apakah kamu benar-benar memiliki waktu dan tenaga untuk melakukannya. Kamu boleh menolak dengan sopan atau meminta waktu sebelum memberikan jawaban.
Kamu juga bisa mulai menyediakan waktu untuk aktivitas yang membuatmu merasa nyaman, seperti berjalan santai, membaca, melakukan hobi, atau berbincang dengan orang yang membuatmu merasa aman.
Tidak semua kebutuhan harus dipenuhi melalui kegiatan besar. Beristirahat ketika lelah, meminta bantuan saat kewalahan, dan menyampaikan perasaan kepada orang terdekat juga merupakan bentuk perhatian terhadap diri sendiri.
>> Baca juga: 4 Cara Tingkatkan Kesadaran Diri Agar Bisa Memahami Emosi
Mulai Jalani Hidup dengan Lebih Sadar
Keluar dari mode autopilot bukan berarti kamu harus mengubah seluruh rutinitas atau selalu merasa bahagia. Ada hari ketika kamu bersemangat dan ada pula hari ketika kamu merasa lelah, sedih, atau kehilangan motivasi. Semua perasaan tersebut merupakan bagian dari pengalaman manusia.
Hal yang dapat kamu lakukan adalah mulai memperhatikan apa yang kamu rasakan, menerima emosi tanpa menghakimi diri sendiri, dan memberi ruang bagi kebutuhan pribadi.
Jika perasaan hampa, kehilangan minat, atau kesulitan menjalani aktivitas berlangsung terus-menerus hingga mengganggu kehidupan sehari-hari, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental.
Kamu tidak harus menunggu sampai merasa benar-benar kewalahan untuk mencari bantuan. Dengan mengenali diri secara bertahap, kamu dapat mulai mengambil kendali atas pilihan hidup dan menemukan kembali hal-hal yang membuat keseharian terasa bermakna.
Living Life on Autopilot? 3 Steps to Find Your Vitality

Komentar