Melatih Empati Lewat Sastra: Strategi Mengolah dan Memahami Perasaan
-
Empati sebagai skill kepemimpinan praktis yang bisa dikembangkan.
-
Mendengarkan cerita, membaca fiksi atau memoar, dan mengamati perilaku orang lain membantu melatih empati secara perlahan.
-
Dengan empati, seseorang dapat memahami motivasi orang lain.
JAKARTA - MEDIA POSITIF, Empati menjadi skill yang bisa dilatih untuk memahami perasaan dan motivasi orang lain, membangun kepercayaan, serta menciptakan hubungan profesional dan peluang bisnis yang lebih kuat.
Ada beberapa orang yang mungkin tanpa sadar meremehkan empati. Mereka mengira empati hanya tentang bersikap baik atau terlihat hangat secara emosional.
Padahal, empati termasuk keterampilan kepemimpinan yang sangat praktis dan bisa dilatih.
Jika Anda ingin berkembang dalam pekerjaan, membangun hubungan profesional yang lebih kuat, dan membuka peluang bisnis yang berkelanjutan, empati bisa menjadi fondasi yang menenangkan sekaligus menguatkan.
Empati bukan sekedar kelembutan tapi bisa dilatih
Empati tak hanya sekedar kelembutan saja, tapi bagaimana anda bisa memahami perasaan orang lain dengan tulus. Ketulusan bisa didapatkan dari rasa percaya dan mengambil kesempatan untuk dekat secara emosional.
Empati tumbuh dari pengalaman hidup orang lain
Empati biasanya tumbuh secara tenang, tidak terlalu dramatis, dan berkembang secara perlahan tanpa disadari. Salah satu cara yang membuat empati tumbuh dengan cara anda mendengarkan cerita & pengalaman hidup orang lain.
Ketika anda membaca fiksi atau ada memoar yang mendalam, maka otak anda juga akan mengalami rasa empati terhadap tokoh yang ada dalam alur cerita. Anda jadi mengalami perasaan dilema, konflik batin, penyesalan, dan keberanian.
Secara neurologis akhirnya hal yang dibayangkan ketika membaca fiksi jadi mengaktifkan jalur yang mirip dengan pengalaman pada kejadian nyata.
Tentu hal ini bermanfaat ketika membaca fiksi karena jadi tidak terlalu melekat pada pandangan sendiri, menjadi orang yang tidak defensif, peka terhadap nada, jeda, dan energi, damai tanpa harus cepat meledak ketika ada masalah.
Empati ajarkan menjadi lebih tenang dalam bersikap
Empati akan membuat percakapan menjadi lebih dalam karena adanya rasa nyaman dan tenang dalam bercerita. Kepercayaan yang tumbuh tidak harus dipaksakan biarkan mengalir apa adanya.
Namun, anda bisa tetap tegas, tapi tidak kaku sehingga mudah menyampaikan apa yang anda maksud dari isi percakapan tersebut.
Kerangka membaca strategis untuk latihan membangun empati
Jika Anda merasa memahami orang lain bukan hal yang mudah, itu wajar. Empati memang tumbuh perlahan. Salah satu cara yang bisa Anda coba dengan tenang adalah melalui kerangka membaca berikut ini:
1. Fiksi sastra
Melalui fiksi sastra akan membuat anda bisa untuk belajar dalam mengetahui hal yang tidak bisa terucapkan dari orang lain, dinamika tersembunyi, pengendalian diri, dan arus emosi yang tidak selalu terlihat pada permukaan.
Hal ini tentu sangat membantu dalam kepemimpinan dan negosiasi karena tidak semua hal bisa disampaikan secara langsung. Anda bisa mencoba membaca never let me go - Kazuo ishiguro.
Dimana novel ini menggambarkan penerimaan diri yang tenang, ketidakseimbangan kekuasaan, dan rasa kehilangan yang tidak bisa diucapkan dengan lantang. Saat anda membacanya, anda akan perlahan belajar memahami perasaan orang lain.
2. Dilema Moral & Ketegangan etika
Membaca konflik moral bisa membantu anda dalam memahami orang yang membuat keputusan yang tidak tepat ketika berada dibawah tekanan, tentu ada alasan dibalik keputusan tersebut.
3. Realisme psikologis
Secara langsung ketika membaca ini akan berpengaruh dalam hal wawancara, mengetahui rasa takut dari percakapan orang lain, inersia, dan berharap dapat mengambil keputusan bijak. ***
Sachin Chitre - Original Article:Empathy as Leverage-How Reading, Emotional Intelligence, and Perspective Quietly Build Careers, Clients, and Long-Term Success

Komentar