Media Positif
Media Positif
Media Positif

Cari Artikel Positif

Ketik untuk mulai mencari...
Bagikan berita positif untuk kebaikan.
WhatsApp Salin Link
*Manfaat membagikan Artikel
Bagikan berita positif untuk kebaikan
WhatsApp Salin Link
*Manfaat membagikan Artikel

Empati Tanpa Paksaan: Mendampingi Orang Autis dalam Duka

Empati Tanpa Paksaan: Mendampingi Orang Autis dalam Duka
Melatih empati terhadap sesama terutama untuk orang autis (Sumber: freepik/@pressfoto)

JAKARTA - MEDIA POSITIF,

  • Tidak ada cara yang benar atau salah dalam berduka. 

  • Tidak semua orang membutuhkan obrolan panjang atau nasihat. 

  • Berduka menjadi perjalanan pribadi. Hal terpenting dengan memberi ruang dan kesabaran.

Setiap orang autis dapat menjalani proses duka dengan cara yang unik, yang mungkin berbeda dari kebanyakan orang dan mungkin juga berbeda dari yang anda bayangkan.

Perbedaan ini bukan berarti ada yang salah atau aneh  itu hanyalah cara mereka mengelola emosi dan menghadapi kehilangan.

Jika anda ingin benar-benar mendukung seseorang autis yang sedang berduka, salah satu langkah terpenting dengan menahan diri dari membuat asumsi tentang apa yang mereka rasakan atau bagaimana mereka “seharusnya” bereaksi.

Serta tidak menganggap mereka akan bereaksi seperti anda maupun menilai berdasarkan stereotip terkait autisme.

Mencoba mendengarkan dan menghormati orang autis 

Luangkan waktu untuk benar-benar mendengarkan dan memahami kebutuhan mereka apa adanya. Sering kali, didengarkan tanpa dihakimi terasa jauh lebih menenangkan daripada dipaksa untuk menyesuaikan diri.

Banyak orang percaya bahwa kehadiran dan obrolan panjang menjadi bentuk dukungan terbaik. Namun, bagi sebagian orang autis yang sedang berduka, terlalu banyak interaksi justru terasa melelahkan.

Ada tekanan untuk terlihat “baik-baik saja”, meskipun di dalam hati mereka mungkin sedang hancur. Tekanan ini bisa membuat proses berduka terasa semakin berat dan melelahkan.

Bukan berarti mereka tidak menghargai kepedulian, hanya saja yang paling membantu mungkin menjadi diri sendiri, sibuk dengan cara mereka sendiri, dan mengetahui ada orang yang siap hadir ketika benar dibutuhkan.

Orang autis membutuhkan dukungan emosional

Dukungan yang tenang, tanpa paksaan dan tanpa tuntutan, sering kali menjadi ruang yang paling aman bagi seseorang autis untuk perlahan memproses dukanya.

Luka tidak selalu bisa disembuhkan dengan logika. Terkadang, yang paling menguatkan justru kejujuran untuk mengakui bahwa ini memang menyakitkan dan tidak adil. Berani mengakui kalau situasi ini menyakitkan dan memang tidak adil. 

Berbagi kenangan terkait orang tiada menjadi cahaya kecil

Berbagi kenangan yang indah terkait orang yang telah tiada bisa menjadi cahaya kecil ketika berada pada temaram gelap serta menghadirkan tawa walau hanya sesaat.

Selain memberikan dukungan emosional, ada kebutuhan yang nyata dan praktis ketika seseorang meninggal tentu ada banyak hal yang diurus pada saat hati rapuh. 

Dengan anda menawarkan bantuan ke mereka, tentu akan membantu dalam mempertimbangkan pilihan, meyakinkan bahwa keputusan yang telah diambil memang sudah baik dan sekedar menemani saat mengurus sesuatu yang berarti.

Banyak orang autis sangat bergantung pada rutinitas, sehingga perubahan mendadak bisa terasa sangat mengguncang.jiwa. Memahami mereka tanpa menggurui dapat menjadi jangkar kecil di tengah kekacauan yang mereka rasakan.

Empati hadir dengan hati terbuka

Empati selalu hadir dengan hati yang terbuka serta tidak memaksakan bagaimana caranya bersimpati dengan orang lain, tidak tergesa - gesa untuk memperbaiki sikap, dan tidak menghakimi siapapun. 

Terkadang, yang paling berarti adalah sekadar hadir menemani dengan tenang, menghormati ritme duka mereka, dan membiarkan prosesnya mengalir apa adanya.

Berduka menjadi perjalanan pribadi yang membuat seseorang menjadi semakin reflektif dalam memaknai luka. Tidak ada tenggat waktu kapan anda bisa melupakan kenangan tentang mereka, tidak ada cara yang sepenuhnya benar dan salah. Tidak seorangpun yang seharusnya merasa didorong untuk move on atau diminta untuk melupakan.

Mungkin bagi orang autis, pengalaman ini akan terasa lebih rumit. Banyak dari mereka yang sudah terbiasa menggunakan cara mereka dalam menjalani hidup.***

Original Article: How to Support a Grieving Autistic Person

Komentar

    ℹ️ Terima kasih, tautan ini akan segera hadir.