6 Satwa Endemik Dunia yang Terancam Punah
JAKARTA - MEDIA POSITIF,
Apa saja hewan yang paling terancam punah di dunia? Menurut International Union for Conservation of Nature, ribuan spesies kini masuk dalam kategori sangat terancam punah atau critically endangered.
Mereka menghadapi risiko tinggi untuk punah dalam waktu dekat apabila tidak segera mendapatkan perlindungan.
Mulai dari mamalia besar hingga burung langka, banyak satwa di berbagai belahan dunia mengalami penurunan populasi akibat perburuan liar, kerusakan habitat, hingga perubahan iklim.
Berikut deretan satwa endemik dunia yang kini berada di ambang kepunahan.
Trenggiling
Trenggiling menjadi salah satu mamalia paling banyak diperdagangkan secara ilegal di dunia.
Dua spesies yang berada dalam kondisi sangat terancam punah adalah trenggiling Sunda dan trenggiling Filipina.
Satwa bersisik ini diburu karena daging dan sisiknya yang diperjualbelikan secara ilegal.
Hingga kini, jumlah pasti populasi trenggiling di alam liar belum diketahui, tetapi populasinya terus mengalami penurunan.

Badak Jawa
Beberapa spesies badak saat ini berada dalam kondisi sangat terancam punah.
Menurut International Union for Conservation of Nature, badak hitam, Javan Rhinoceros, badak putih utara, dan Sumatran Rhinoceros termasuk satwa yang populasinya terus menurun drastis.
Berdasarkan data terbaru, jumlah badak Jawa di alam liar diperkirakan hanya sekitar 18 ekor.
Badak putih utara kemungkinan sudah punah di alam liar karena hanya tersisa sekitar 0-2 individu.
Badak hitam diperkirakan tersisa sekitar 3.142 ekor, sedangkan badak Sumatera hanya sekitar 30 ekor.
Badak Jawa mengalami penurunan populasi akibat perburuan liar dan perdagangan ilegal cula badak.
Dahulu badak ini hidup di berbagai wilayah Asia, tetapi kini hanya ditemukan di satu taman nasional di Pulau Jawa, Indonesia.
Badak hitam terancam punah karena perburuan liar, kerusakan habitat, dan perubahan iklim yang memengaruhi lingkungan hidupnya.
Badak putih utara juga menghadapi ancaman besar akibat perburuan serta konflik manusia di habitat mereka.
Sedangkan badak Sumatera semakin sulit bertahan hidup karena jumlah populasinya yang sangat sedikit, gangguan manusia, dan perburuan liar yang masih terjadi.
Macan Tutul Amur
Macan tutul Amur berasal dari wilayah Rusia timur dan Tiongkok utara. Populasinya diperkirakan hanya sekitar 100 ekor di alam liar.
Hilangnya habitat akibat kebakaran hutan dan aktivitas manusia menjadi ancaman utama bagi spesies ini. Populasi yang kecil membuat mereka rentan mengalami perkawinan sedarah.
Gajah Hutan Afrika
Semua spesies gajah saat ini menghadapi ancaman kepunahan, termasuk African Forest Elephant yang hidup di hutan tropis Afrika sub-Sahara.
Spesies ini bahkan masuk dalam kategori sangat terancam punah karena populasinya terus menurun.
Gajah hutan Afrika menghadapi banyak ancaman, mulai dari perburuan liar untuk diambil gadingnya, perdagangan ilegal, hingga hilangnya habitat.
Konflik antara manusia dan gajah di wilayah jelajah mereka juga menjadi penyebab berkurangnya populasi satwa ini.
Gajah memiliki proses reproduksi yang lambat sehingga jumlah populasinya sulit bertambah dengan cepat.
Saola
Saola dikenal sebagai unicorn Asia atau spindlehorn. Satwa langka ini hidup di kawasan hutan Vietnam dan Laos serta memiliki penampilan yang mirip dengan rusa.
Saola kini berada dalam kondisi terancam punah akibat perburuan komersial dan kerusakan habitat.
Pembukaan lahan untuk pertanian, pembangunan jalan, dan aktivitas pertambangan membuat tempat hidup satwa ini semakin berkurang.
Jumlah populasi saola yang sangat sedikit membuat mereka sulit berkembang biak. Banyak individu hidup terpisah satu sama lain sehingga peluang untuk bertemu dan bereproduksi menjadi semakin kecil.
Diperkirakan saat ini hanya tersisa beberapa puluh hingga beberapa ratus saola di alam liar. Bahkan jumlah aslinya kemungkinan jauh lebih sedikit dari perkiraan tertinggi, yaitu sekitar 750 ekor.
KÄkÄpÅ
Menurut International Union for Conservation of Nature, saat ini hanya tersisa sekitar 116 ekor KÄkÄpÅ di wilayah barat daya Selandia Baru.
Burung langka ini hanya hidup di daerah kecil tersebut. KÄkÄpÅ merupakan burung beo berukuran besar dengan tubuh gemuk dan bulu berwarna hijau.
Burung ini sangat unik karena menjadi satu-satunya spesies burung beo di dunia yang tidak bisa terbang. KÄkÄpÅ hidup di darat dan aktif pada malam hari.
Populasi kÄkÄpÅ terus menurun akibat berbagai ancaman. Kucing peliharaan maupun kucing liar sering memangsa burung ini, sementara tikus memakan telur-telurnya.
Penyakit dan tingkat reproduksi yang rendah membuat jumlah kÄkÄpÅ semakin sulit bertambah.
Karena kondisi tersebut, IUCN mengklasifikasikan kÄkÄpÅ sebagai satwa yang terancam punah.
Berbagai satwa endemik di dunia kini menghadapi ancaman kepunahan akibat perburuan liar, perdagangan ilegal, kerusakan habitat, hingga perubahan iklim.
Trenggiling, badak Jawa, gajah hutan Afrika, saola, dan kÄkÄpÅ menjadi contoh bagaimana aktivitas manusia dapat menyebabkan populasi hewan terus menurun drastis.
Jika tidak ada upaya perlindungan yang serius, bukan tidak mungkin beberapa spesies tersebut akan hilang.
Konservasi habitat, penghentian perdagangan satwa ilegal, dan peningkatan kesadaran masyarakat menjadi langkah penting untuk menjaga keberlangsungan satwa langka di dunia.
International Fund for Animal Welfare

Komentar