Media Positif
Media Positif
Media Positif

Cari Artikel Positif

Ketik untuk mulai mencari...
Bagikan berita positif untuk kebaikan.
WhatsApp Salin Link
*Manfaat membagikan Artikel
Bagikan berita positif untuk kebaikan
WhatsApp Salin Link
*Manfaat membagikan Artikel

Risiko Paylater yang Membuat Banyak Orang Sulit Mengontrol Pengeluaran

Sebelum menggunakan paylater, pastikan kebutuhan lebih penting daripada keinginan.
Risiko Paylater yang Membuat Banyak Orang Sulit Mengontrol Pengeluaran
Paylater semakin populer karena menawarkan kemudahan belanja cicilan. (Sumber: freepik)

JAKARTA - MEDIA POSITIF,

Belanja kini terasa semakin mudah. Hanya dengan meng-klik di ponsel, seseorang bisa membeli pakaian, gadget, makanan, hingga kebutuhan sehari-hari. 

Kehadiran layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau pay later membuat banyak orang merasa transaksi menjadi lebih praktis dan ringan.

Layanan ini memungkinkan pengguna membagi pembayaran menjadi beberapa cicilan kecil dalam jangka waktu tertentu. 

Tidak sedikit platform digital dan e-commerce yang kini menawarkan fitur tersebut karena dianggap mempermudah konsumen saat berbelanja.

Di balik kemudahannya, penggunaan pay later mulai menimbulkan kekhawatiran baru. Banyak orang perlahan terjebak dalam kebiasaan berhutang yang menumpuk tanpa disadari.

Sebuah studi dari Financial Industry Regulatory Authority atau FINRA menemukan hampir satu dari empat warga Amerika menggunakan layanan BNPL dalam 12 bulan terakhir. 

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa pengguna pay later lebih rentan, seperti hanya membayar tagihan minimum kartu kredit, melewati batas kredit, hingga rekening overdraft.

Pay Later Kini Digunakan untuk Kebutuhan Sehari-hari

Awalnya layanan pay later banyak digunakan untuk membeli barang-barang tertentu seperti pakaian, elektronik, atau kebutuhan gaya hidup. Kini penggunaannya mulai bergeser ke kebutuhan yang lebih mendasar.

Survei dari LendingTree menunjukkan sekitar 25 persen pengguna BNPL menggunakan layanan tersebut untuk membeli bahan makanan. 

Angka ini meningkat cukup tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan sebagian pengguna juga memakai paylater untuk membeli makanan siap saji atau layanan pesan antar makanan.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa sebagian masyarakat mulai bergantung pada pay later bukan lagi untuk keinginan, tetapi untuk memenuhi kebutuhan. 

Kondisi ekonomi yang semakin berat membuat sebagian orang mencoba mencari cara, agar tetap bisa memenuhi kebutuhan meski kondisi keuangan sedang terbatas.

Di sisi lain, kemudahan pembayaran cicilan kecil sering membuat seseorang merasa pengeluaran mereka masih aman. 

Cicilan Kecil Bisa Menumpuk Menjadi Beban yang Besar

Salah satu masalah yang paling banyak disorot dalam penggunaan pay later adalah fenomena debt stacking atau penumpukan utang. 

Kondisi ini terjadi ketika seseorang memiliki beberapa cicilan pay later sekaligus dalam waktu bersamaan.

Banyak pengguna merasa satu cicilan kecil bukan masalah. Ketika cicilan datang dari banyak transaksi berbeda, total utang yang harus dibayar perlahan menjadi semakin besar.

Rod Griffin dari Experian menggambarkan kondisi ini dengan sederhana. Satu pasang sepatu mungkin terasa ringan untuk dicicil, tetapi jika seseorang memiliki banyak cicilan sekaligus, jumlahnya dapat berubah menjadi masalah besar.

Survei LendingTree juga menunjukkan sekitar 60 persen pengguna BNPL memiliki lebih dari satu pinjaman pay later secara bersamaan. 

Bahkan sebagian pengguna muda memiliki tiga cicilan atau lebih dalam waktu yang sama.

Semakin banyak cicilan yang dimiliki, semakin sulit seseorang mengatur pembayaran. Banyak pengguna yang akhirnya terlambat membayar karena lupa jadwal cicilan atau kondisi keuangan mereka sudah tidak cukup.

Banyak Pengguna Mulai Kesulitan Membayar

Data lain yang cukup mengkhawatirkan menunjukkan, lebih dari 40 persen pengguna BNPL mengaku pernah terlambat membayar cicilan mereka dalam satu tahun terakhir. 

Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Keterlambatan pembayaran memang terlihat sepele pada awalnya, tetapi tambahan dan denda keterlambatan dapat membuat total tagihan semakin besar. 

Dalam beberapa kasus, utang yang tidak dibayar juga bisa masuk ke penagihan dan memengaruhi laporan kredit pengguna.

Ironisnya, masih banyak pengguna yang belum memahami bagaimana sistem pay later bekerja. 

Sebagian orang percaya bahwa membayar cicilan tepat waktu akan otomatis meningkatkan skor kredit mereka. Padahal banyak layanan BNPL, belum sepenuhnya terhubung dengan sistem penilaian kredit tradisional.

Kesalahpahaman inilah yang membuat sebagian pengguna merasa pay later lebih aman dibandingkan kartu kredit, meski risikonya tetap ada.

Popularitas pay later juga tidak lepas dari perubahan gaya hidup digital. Belanja online kini semakin cepat, praktis, dan dipenuhi berbagai promosi menarik. 

Beberapa penelitian bahkan menyebut sistem pembayaran cicilan kecil dapat mendorong perilaku belanja impulsif. 

Ketika harga dibagi menjadi nominal yang terlihat ringan, seseorang cenderung merasa barang tersebut lebih terjangkau.

Tanpa disadari, kebiasaan ini dapat membuat seseorang membeli lebih banyak barang dibandingkan kemampuan finansialnya.

Sebelum menggunakan layanan cicilan, penting untuk memastikan bahwa pembayaran di masa depan tetap mampu dipenuhi.

Di tengah kemudahan transaksi online saat ini, masyarakat perlu semakin bijak membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Semoga artikel ini dapat membantu pembaca lebih memahami manfaat dan risiko paylater sebelum menggunakannya.

investopedia.com

Komentar