Media Positif
Media Positif
Media Positif

Cari Artikel Positif

Ketik untuk mulai mencari...
Bagikan berita positif untuk kebaikan.
WhatsApp Salin Link
*Manfaat membagikan Artikel
Bagikan berita positif untuk kebaikan
WhatsApp Salin Link
*Manfaat membagikan Artikel

Diam-Diam Liburan Saat WFH, Kenapa Banyak Karyawan yang Melakukannya?

Tren quiet vacationing di anggap sebagai jalan keluar dari tekanan kerja
Diam-Diam Liburan Saat WFH, Kenapa Banyak Karyawan yang Melakukannya?
Liburan dengan banyaknya kerjaan di depan leptop. (Sumber: freepik)

JAKARTA - MEDIA POSITIF,

Pernah diam-diam liburan saat jam kerja masih berjalan? Laptop tetap dibawa, notifikasi kantor tetap menyala, dan sesekali masih membalas chat dari rekan kerja. 

Dari luar terlihat sedang bekerja seperti biasa, padahal sedang menikmati suasana pantai atau jalan-jalan di luar kota. Jika pernah, kamu tidak sendirian. 

Fenomena ini dikenal dengan istilah quiet vacationing atau liburan diam-diam. Berbeda dengan cuti pada umumnya, karyawan yang melakukan liburan diam-diam tidak memberi tahu atasan bahwa mereka sedang berlibur. 

Mereka tetap terlihat bekerja secara online, tapi sambil diam-diam mengambil waktu untuk healing sejenak.

Tren ini menjadi perbincangan karena dianggap sebagai gejala baru dari budaya kerja modern yang semakin menuntut. 

Di satu sisi, teknologi memungkinkan seseorang bekerja dari mana saja, tapi di sisi lain kemudahan tersebut membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin kabur.

Ketika Liburan Menjadi Sesuatu yang Harus Disembunyikan

Bagi banyak orang, mengambil cuti seharusnya menjadi hal yang biasa. Namun kenyataannya, tidak semua pekerja merasa nyaman mengajukan libur.

Karyn Rhodes, VP HR Services di isolved, mengatakan bahwa fenomena ini terjadi karena banyak pekerja merasa perlu mencuri waktu untuk beristirahat tanpa harus meninggalkan pekerjaan sepenuhnya. 

“Quiet vacationing adalah ketika karyawan menyisipkan waktu untuk beristirahat dan mengisi ulang energi tanpa memberi tahu manajer mereka atau mengajukan permintaan cuti,” kata Rhodes.

Fenomena ini cukup ironis, banyak perusahaan saat ini mendorong karyawan untuk menjadi diri sendiri di tempat kerja dan terbuka mengenai kebutuhan mereka.

Pada saat yang sama, banyak pekerja justru merasa harus menyembunyikan bahwa mereka sedang kelelahan dan membutuhkan waktu istirahat.

Alih-alih mengajukan cuti, mereka memilih tetap terlihat online sambil diam-diam berlibur.

Keputusan tersebut biasanya bukan ingin melanggar aturan, melainkan takut dianggap tidak berkomitmen terhadap pekerjaan.

Mengapa Banyak Orang Enggan Mengambil Cuti?

Di Amerika Serikat, rata-rata pekerja mendapatkan sekitar 10 hari cuti berbayar setiap tahun yang dapat digunakan untuk liburan, sakit, maupun keperluan pribadi. 

Namun berbagai data menunjukkan bahwa sebagian besar jatah cuti tersebut justru tidak digunakan.

Menurut Rhodes, ada alasan yang lebih dalam di balik kondisi tersebut.

“Ada banyak alasan mengapa hal ini terjadi, tetapi sebagian besar berkaitan dengan tekanan yang dirasakan karyawan untuk terus menunjukkan kinerja,” ujarnya.

Banyak pekerja merasa tidak nyaman mengambil cuti karena khawatir pekerjaan akan menumpuk. 

Situasi ini semakin terasa setelah banyak perusahaan melakukan efisiensi, pengurangan karyawan, dan perlambatan perekrutan dalam beberapa tahun terakhir.

“Selama setahun terakhir, banyak karyawan diminta mengambil beban kerja tambahan di tengah PHK dan perlambatan perekrutan,” kata Rhodes.

Akibatnya satu orang sering kali harus menangani pekerjaan yang sebelumnya dikerjakan oleh beberapa orang.

Di sinilah kerja jarak jauh dan sistem hybrid menghadirkan dua sisi yang berbeda. Fleksibilitas memang memberikan kebebasan bekerja dari mana saja. 

Namun fleksibilitas itu juga membuat banyak pekerja merasa harus selalu siap merespons pekerjaan kapanpun dibutuhkan.

Laptop selalu berada di dekat mereka dan notifikasi kerja terus masuk ke ponsel. 

Masalah yang Lebih Besar dari Sekadar Cuti

Fenomena liburan diam-diam sebenarnya mengungkap persoalan yang lebih besar daripada sekadar urusan cuti. 

Menurut Rhodes, tren ini bisa menjadi tanda adanya budaya kerja yang kurang sehat di dalam organisasi.

Ketika karyawan merasa harus menyembunyikan waktu istirahat mereka, itu menunjukkan adanya masalah kepercayaan antara pekerja dan perusahaan.

“Ketika karyawan merasa harus berbohong kepada manajer hanya untuk mengambil cuti yang sebenarnya menjadi hak mereka, itu menunjukkan bahwa mereka tidak percaya organisasinya benar-benar mendorong pekerja untuk beristirahat,” kata Rhodes.

Padahal berbagai penelitian menunjukkan bahwa istirahat yang cukup justru membuat karyawan kembali bekerja dengan pikiran yang lebih segar.

Sebaliknya, ketika lelah terus dibiarkan, dampaknya dapat dirasakan baik oleh pekerja maupun perusahaan. 

Karyawan menjadi mudah stres, sementara perusahaan menghadapi risiko produktivitas yang menurun serta meningkatnya tingkat turnover.

Solusi sesungguhnya bukanlah berpura-pura bekerja saat sedang libur. Solusi yang lebih sehat adalah menciptakan budaya kerja yang membuat karyawan merasa aman untuk beristirahat.

Karena berlibur bukan tanda kurangnya komitmen terhadap pekerjaan, justru dengan berhenti istirahat seseorang dapat kembali bekerja dengan energi, semangat, dan kesehatan yang lebih baik.

Semoga artikel ini dapat menjadi bahan refleksi bagi perusahaan untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat.

forbes.com

Komentar