Bahaya Mikroplastik yang Perlu Diwaspadai bagi Lingkungan dan Kesehatan
JAKARTA - MEDIA POSITIF,
Selama bertahun-tahun, sampah plastik sering dipandang sebagai masalah lingkungan yang terlihat jelas di depan mata.
Kita melihat kantong plastik tersangkut di pohon, botol minuman mengapung di sungai, atau tumpukan kemasan yang memenuhi tempat pembuangan sampah.
Kini para ilmuwan semakin khawatir pada ancaman yang jauh lebih kecil ukurannya dan sering kali tidak terlihat, yaitu mikroplastik.
Mikroplastik adalah partikel-partikel kecil yang terbentuk ketika plastik terurai di lingkungan. Meski ukurannya sangat kecil, dampaknya diperkirakan bisa sangat besar.
Temuan terbaru dari para ilmuwan lingkungan menunjukkan bahwa mikroplastik mungkin tidak hanya mencemari laut dan tanah, tapi juga mengganggu kehidupan di bumi.
Salah satu temuan yang paling mengkhawatirkan datang dari penelitian yang dipimpin oleh Profesor Huan Zhong dari Universitas Nanjing, Tiongkok.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa mikroplastik berpotensi menghambat fotosintesis pada tanaman dan alga laut.
Fotosintesis merupakan proses ketika tumbuhan mengubah sinar matahari menjadi energi yang dibutuhkan untuk tumbuh dan menghasilkan pangan.
Jika proses ini terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh tanaman, tetapi juga oleh manusia yang bergantung pada hasil pertanian sebagai sumber makanan.
Para peneliti memang menegaskan bahwa temuan ini masih memerlukan penelitian lanjutan.
Namun mereka menilai hasil tersebut cukup serius untuk mendapat perhatian.
Analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa mikroplastik berpotensi menurunkan produktivitas tanaman pangan hingga sekitar 12 persen.
Dalam dunia yang populasinya terus bertambah dan kebutuhan pangan semakin besar, penurunan sebesar itu tentu bukan angka yang kecil.
Tidak ada satu penyebab tunggal yang menjelaskan bagaimana mikroplastik menghambat pertumbuhan tanaman.
Dampaknya muncul dari berbagai faktor yang saling berkaitan. Partikel-partikel plastik dapat menghalangi cahaya matahari dan nutrisi yang dibutuhkan tanaman.
Mikroplastik juga dapat merusak struktur tanah dan mempengaruhi sel-sel tanaman. Kondisi tersebut akhirnya menurunkan kadar klorofil, pigmen hijau yang berperan penting dalam proses fotosintesis.
Ketika fotosintesis menurun, pertumbuhan tanaman pun ikut terganggu.
Ketika para peneliti memodelkan dampak dari penurunan fotosintesis tersebut, hasilnya menunjukkan bahwa Asia menjadi wilayah yang paling rentan terdampak.
Hal ini cukup masuk akal mengingat Asia merupakan rumah bagi sebagian besar populasi dunia dan sangat bergantung pada sektor pertanian.
Jika hasil panen menurun, risiko kerawanan pangan dan kelaparan bisa semakin meningkat di berbagai negara.
Partikel-partikel ini ditemukan di laut, sungai, tanah pertanian, hingga wilayah terpencil seperti Laut Arktik.
Bahkan berbagai penelitian menemukan mikroplastik di dalam tubuh manusia, termasuk pada air mani, ASI, otak, hati, dan sumsum tulang.
Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa mikroplastik bukan lagi masalah yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia sudah menjadi bagian dari lingkungan yang kita tinggali dan bahkan masuk ke dalam tubuh manusia.
Kekhawatiran para ilmuwan tidak berhenti pada dampaknya terhadap tanaman. Mereka juga masih berusaha memahami berbagai risiko kesehatan yang mungkin muncul akibat paparan mikroplastik.
Sejumlah penelitian mulai mengaitkan keberadaan mikroplastik dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk stroke, serangan jantung, dan kelahiran prematur.
Sebuah studi yang dipresentasikan pada awal tahun bahkan menemukan tingkat polusi mikroplastik yang lebih tinggi pada plasenta bayi yang lahir prematur.
Meski hubungan sebab akibatnya masih terus diteliti, temuan-temuan tersebut semakin memperkuat alasan mengapa polusi plastik perlu mendapat perhatian serius.
Di sisi lain produksi plastik dunia terus meningkat, setiap tahun lebih dari 500 juta ton plastik diproduksi.
Sebagian besar plastik tersebut tidak didaur ulang dan akhirnya berakhir di lingkungan.
Seiring waktu, plastik-plastik itu akan pecah menjadi partikel yang semakin kecil hingga menjadi mikroplastik yang sulit dikendalikan.
Plastik juga telah lama diketahui membahayakan satwa liar, terutama hewan laut yang dapat terluka atau keracunan akibat menelan limbah plastik.
Selain merusak ekosistem, pencemaran plastik juga berdampak pada sektor ekonomi seperti pariwisata yang bergantung pada kualitas lingkungan.
Perundingan internasional yang bertujuan menyusun perjanjian PBB tentang polusi plastik gagal mencapai kesepakatan pada akhir tahun lalu.
Salah satu penyebabnya adalah perbedaan kepentingan antara negara-negara yang ingin membatasi produksi plastik dan pihak-pihak yang masih bergantung pada industri bahan bakar fosil.
Hampir seluruh plastik sekali pakai yang digunakan saat ini berasal dari bahan bakar fosil seperti minyak dan gas.
Mikroplastik kini berkaitan dengan kesehatan manusia, ketahanan pangan, keberlangsungan ekosistem, hingga masa depan lingkungan global.
Ironisnya, hanya sekitar 9 persen plastik yang berhasil didaur ulang. Sisanya berakhir di tempat pembuangan sampah atau mencemari lingkungan.
Bahkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa proses daur ulang tertentu juga dapat menghasilkan dampak lingkungan yang perlu diperhatikan.
Semakin banyak penelitian yang mengungkap dampak mikroplastik terhadap lingkungan dan kesehatan, semakin jelas bahwa dunia tidak bisa lagi menunda tindakan.
Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memperbaiki sistem pengelolaan sampah,
dan mendorong kesepakatan internasional yang lebih kuat menjadi langkah yang semakin mendesak.
Jika tidak, partikel-partikel kecil yang nyaris tak terlihat ini bisa membawa konsekuensi besar bagi generasi mendatang.
theguardian.com

Komentar