Media Positif
Media Positif
Media Positif

Cari Artikel Positif

Ketik untuk mulai mencari...
Bagikan berita positif untuk kebaikan.
WhatsApp Salin Link
*Manfaat membagikan Artikel
Bagikan berita positif untuk kebaikan
WhatsApp Salin Link
*Manfaat membagikan Artikel

Cabai dan Kunyit, Benarkah Bisa Meningkatkan Kesehatan Tubuh?

Cabai dan kunyit sering disebut sebagai rempah yang menyehatkan.
Cabai dan Kunyit, Benarkah Bisa Meningkatkan Kesehatan Tubuh?
Di balik rasa pedas tersebut, capsaicin ternyata menarik perhatian banyak ilmuwan. (Sumber: freepik)

JAKARTA - MEDIA POSITIF,

Pernahkah kamu mendengar orang menyarankan minum kunyit hangat saat sedang tidak enak badan? Atau mungkin ada teman yang percaya bahwa makan cabai bisa membantu tubuh tetap sehat dan tidak mudah sakit?

Belakangan ini, berbagai rempah dapur memang sering disebut sebagai “superfood”. Kunyit, cabai, jahe, hingga lada hitam tidak lagi hanya digunakan sebagai penyedap masakan, tetapi juga dipercaya memiliki manfaat kesehatan yang luar biasa.

Bahkan saat pandemi beberapa tahun lalu, minuman berbahan kunyit sempat menjadi tren karena dianggap dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh. 

Sementara itu, cabai sering dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan, mulai dari membantu metabolisme hingga memperpanjang usia.

Tapi apakah semua klaim tersebut benar? Ataukah rempah-rempah hanya sekadar pelengkap rasa dalam makanan?

Para ahli gizi menjelaskan bahwa sebagian rempah memang mengandung senyawa aktif yang berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan. 

Meski begitu, manfaat tersebut tidak selalu sebesar yang banyak beredar di media sosial. Penelitian masih terus dilakukan untuk memahami bagaimana rempah-rempah bekerja di dalam tubuh manusia.

Cabai yang Menarik Perhatian Peneliti

Cabai menjadi salah satu rempah yang paling banyak diteliti dalam dunia kesehatan. Sensasi pedas yang muncul saat mengonsumsi cabai berasal dari senyawa bernama capsaicin.

Ketika cabai dipotong atau dikunyah, capsaicin berinteraksi dengan reseptor tertentu pada tubuh yang biasanya merespons panas. 

Inilah yang membuat mulut terasa seperti terbakar meskipun suhu makanan sebenarnya tidak panas.

Di balik rasa pedas tersebut, capsaicin ternyata menarik perhatian banyak ilmuwan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi cabai secara rutin berpotensi berkaitan dengan risiko kematian yang lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsinya.

Penelitian di Italia dan Tiongkok menemukan hubungan antara konsumsi cabai dengan kesehatan jantung dan umur yang lebih panjang, meskipun hubungan sebab-akibatnya masih terus dipelajari.

Capsaicin juga diketahui memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa senyawa ini dapat membantu mengurangi peradangan serta mendukung kesehatan pembuluh darah. 

Ada pula studi yang menemukan bahwa capsaicin dapat membantu meningkatkan pengeluaran energi tubuh dan sedikit mendukung metabolisme. Namun efeknya tidak sebesar yang sering dibayangkan banyak orang.

Meski demikian, cabai bukanlah obat ajaib. Bagi sebagian orang, makanan yang terlalu pedas justru dapat memicu ketidaknyamanan pada lambung atau saluran pencernaan. Konsumsi cabai tetap perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing.

Kunyit yang Kaya Kurkumin

Jika cabai terkenal karena capsaicin, kunyit dikenal berkat kandungan kurkumin. Senyawa inilah yang memberi warna kuning khas pada kunyit, sekaligus menjadi alasan mengapa rempah ini banyak digunakan dalam pengobatan tradisional selama ratusan tahun.

Kurkumin dikenal memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi. Kunyit sering dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan, mulai dari membantu mengurangi peradangan hingga mendukung kesehatan tubuh secara umum.

Berbagai penelitian laboratorium menunjukkan bahwa kurkumin memiliki potensi yang menjanjikan. 

Bahkan beberapa penelitian menemukan bahwa senyawa ini dapat memengaruhi proses yang berkaitan dengan pertumbuhan sel kanker di lingkungan laboratorium. 

Para peneliti menegaskan bahwa hasil laboratorium belum tentu memberikan efek yang sama ketika diterapkan pada tubuh manusia.

Salah satu tantangan terbesar kunyit adalah masalah penyerapan. Kurkumin ternyata tidak mudah diserap oleh tubuh. 

Akibatnya, manfaat yang terlihat di laboratorium sering kali sulit diperoleh hanya dengan mengonsumsi kunyit dalam jumlah biasa sebagai bumbu masakan. 

Para ahli menjelaskan bahwa senyawa piperin yang terdapat dalam lada hitam dapat membantu meningkatkan penyerapan kurkumin secara signifikan.

Meski begitu, bukan berarti kunyit tidak bermanfaat. Menambahkan kunyit ke dalam pola makan tetap menjadi pilihan yang baik karena rempah ini mengandung berbagai senyawa alami yang mendukung kesehatan tubuh. 

Hanya saja, kunyit tidak bisa dianggap sebagai obat yang mampu mencegah atau menyembuhkan semua penyakit.

Pada akhirnya, baik cabai maupun kunyit memang memiliki potensi manfaat kesehatan yang menarik. 

Para ahli mengingatkan bahwa tidak ada satu jenis makanan atau rempah yang bisa menjadi solusi tunggal untuk menjaga kesehatan.

Pola makan seimbang, tidur yang cukup, olahraga rutin, dan pengelolaan stres tetap menjadi fondasi utama kesehatan. 

Rempah-rempah seperti cabai dan kunyit bisa menjadi pelengkap yang baik dalam menu sehari-hari, tetapi bukan pengganti gaya hidup sehat secara keseluruhan. 

Jadi, tidak ada salahnya menambahkan cabai atau kunyit ke dalam masakan. Selain membuat makanan lebih lezat, keduanya juga membawa berbagai senyawa alami yang berpotensi memberikan manfaat bagi tubuh.

bbc.com

Komentar