Media Positif
Media Positif
Media Positif

Cari Artikel Positif

Ketik untuk mulai mencari...
Bagikan berita positif untuk kebaikan.
WhatsApp Salin Link
*Manfaat membagikan Artikel
Bagikan berita positif untuk kebaikan
WhatsApp Salin Link
*Manfaat membagikan Artikel

Penyakit dari Tikus yang Bisa Menyerang Otak Mulai Ditemukan di California

Cacing paru-paru tikus yang dapat menyebabkan gangguan saraf.
Penyakit dari Tikus yang Bisa Menyerang Otak Mulai Ditemukan di California
Jangan remehkan tikus di sekitar rumah. (Sumber: pexels)

JAKARTA - MEDIA POSITIF,

Tikus selama ini dikenal sebagai hewan pembawa berbagai penyakit, temuan terbaru di California membuat para ahli kesehatan kembali meningkatkan kewaspadaan. 

Sebuah parasit yang dikenal sebagai cacing paru-paru tikus atau rat lungworm ditemukan pada sejumlah hewan liar di San Diego County dan berpotensi menimbulkan gangguan serius pada sistem saraf manusia.

Temuan ini dilaporkan oleh para peneliti dalam jurnal Emerging Infectious Diseases yang diterbitkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC). 

Para peneliti menyebut kemunculan parasit tersebut sebagai perluasan signifikan wilayah penyebarannya di Amerika Utara.

Meski risiko infeksi pada manusia masih tergolong rendah, penyakit ini tidak bisa dianggap sepele. 

Dalam kasus tertentu, infeksi dapat menyebabkan gangguan neurologis, meningitis, bahkan berujung pada kondisi yang mengancam nyawa.

Parasit yang Berasal dari Asia Tenggara

Penyakit ini disebabkan oleh cacing parasit bernama Angiostrongylus cantonensis. Parasit tersebut pertama kali dikenal berasal dari Asia Tenggara dan telah ditemukan di beberapa wilayah Amerika Serikat sejak tahun 1960-an.

Para ahli meyakini penyebarannya ke berbagai negara terjadi melalui tikus yang terbawa kapal-kapal perdagangan internasional. 

Seiring waktu, parasit tersebut berhasil beradaptasi dan menyebar ke berbagai wilayah baru, termasuk Hawaii dan sejumlah negara bagian di Amerika Serikat bagian selatan.

Lingkungan favorit cacing ini adalah paru-paru tikus. Di dalam tubuh tikus, cacing berkembang biak dan menghasilkan larva yang kemudian keluar melalui kotoran tikus. 

Larva tersebut lalu dimakan oleh siput atau bekicot yang menjadi inang berikutnya.

Siklus penyebaran berlanjut ketika tikus kembali memakan siput atau bekicot yang telah terinfeksi. 

Namun masalah muncul ketika hewan lain, atau bahkan manusia, tanpa sengaja ikut menelan larva tersebut.

Bagaimana Manusia Bisa Tertular?

Menurut CDC, manusia dapat terinfeksi ketika mengonsumsi siput, bekicot, katak, udang air tawar, atau kepiting yang terinfeksi dan tidak dimasak hingga matang.

Risiko lain yang sering tidak disadari adalah mengonsumsi sayuran atau buah yang tidak dicuci bersih. 

Lendir siput atau bekicot yang mengandung larva cacing bisa menempel pada permukaan sayuran dan masuk ke tubuh saat dikonsumsi.

Karena itulah para ahli kesehatan mengingatkan pentingnya mencuci bahan makanan secara menyeluruh sebelum dimakan, terutama sayuran yang dikonsumsi mentah.

Selain manusia, hewan peliharaan seperti anjing dan kucing juga dapat tertular jika tanpa sengaja memakan hewan yang terinfeksi.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Ketika larva masuk ke tubuh manusia, cacing tidak dapat menyelesaikan siklus hidupnya seperti di tubuh tikus. Keberadaannya tetap dapat menimbulkan peradangan serius, terutama pada otak dan sistem saraf.

Gejala yang muncul bisa sangat beragam. Beberapa penderita mengalami sakit kepala hebat, leher kaku, mual, muntah, demam ringan, hingga sensasi kesemutan atau nyeri pada kulit.

Dalam kasus yang lebih berat, infeksi dapat menyebabkan gangguan saraf serius, koma, bahkan kematian.

Yang membuat penyakit ini sulit dikenali adalah gejalanya sering menyerupai berbagai penyakit lain. Akibatnya, banyak kasus berpotensi tidak terdiagnosis atau terlambat mendapatkan penanganan.

Menurut para petugas kesehatan di Hawaii, wilayah yang telah lama menghadapi penyakit ini, pengobatan sebaiknya dilakukan sesegera mungkin jika ada dugaan infeksi, bahkan sebelum hasil laboratorium keluar.

Awal Mula Penemuan di California

Kasus ini mulai menarik perhatian ketika seekor wallaby Parma berusia tujuh tahun di Kebun Binatang San Diego menunjukkan gejala neurologis yang tidak biasa pada akhir tahun 2024.

Hewan tersebut mengalami gangguan koordinasi tubuh, kebutaan, sering menggelengkan kepala, dan akhirnya mengalami kelumpuhan pada kaki belakangnya. 

Setelah kondisinya terus memburuk, tim dokter hewan memutuskan untuk melakukan eutanasia.

Saat dilakukan pemeriksaan, ditemukan enam ekor cacing paru-paru tikus di dalam otaknya. Kerusakan jaringan saraf yang cukup parah juga terlihat jelas.

Temuan tersebut mendorong staf kebun binatang melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap puluhan tikus liar yang berada di area kebun binatang. Hasilnya, beberapa tikus terbukti membawa parasit tersebut.

Pada waktu yang hampir bersamaan, pusat rehabilitasi satwa liar Project Wildlife juga menemukan sejumlah oposum liar yang terinfeksi cacing paru-paru tikus.

Penemuan pada beberapa spesies hewan berbeda inilah yang membuat para peneliti mulai khawatir bahwa parasit tersebut mungkin sudah mulai menyebar secara lokal di wilayah San Diego.

Hingga saat ini, otoritas kesehatan California belum menyatakan bahwa penyakit ini telah menjadi penyakit endemik di wilayah tersebut. Mereka menegaskan bahwa pengawasan lebih lanjut masih diperlukan.

Sementara menunggu hasil penelitian lanjutan, para ahli mengimbau masyarakat untuk mengambil langkah pencegahan penting.

Pastikan semua sayuran dan buah dicuci hingga bersih sebelum dikonsumsi. Hindari mengkonsumsi siput, bekicot, katak, atau hewan air tawar lainnya dalam kondisi mentah atau kurang matang. 

Jaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya tikus.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa perubahan lingkungan dan perpindahan hewan dari satu wilayah ke wilayah lain dapat membawa penyakit yang sebelumnya tidak ditemukan di suatu daerah. 

Meski risikonya masih rendah, kewaspadaan tetap diperlukan agar penyakit ini tidak berkembang menjadi ancaman kesehatan yang lebih besar di masa depan.

latimes.com

Komentar